UPAYA KEBIJAKSANAAN KONSERVASI RAGAM HAYATI DALAM HUTAN ALAM PRODUKSI


Diversifikai produk hasil hutan akan semakin menjamin  kelestarian ekositem hutan, karena adanya  realokasi input (hutan) untuk manfaat hasil hutan non kayu. Secara kumukatif, hal ini berarti pengurangan penebangan  areal hutan untuk mendapatkan keuntungan  yang sama untuk satu produk tunggal. Namun apabila tidak dilakukan pengaturan  yang baik maka dapat menyebbakan peningkatan intesitas penebangan.

Dalam konteks tersebut maka upaya konsrevasi ragam hayati sebagi komponen yang tak terpisahkan dari ekositem sumberdaya hutan perlu dilestarikan, baik didalam kawasan hutan suaka, hutan lindung maupun hutan produksi.

Dalam kaitannya dengan Undang – undang  nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, maka saat ini sistem silvikultur yang tengah diberlakukan di Indonesia akan mampu mengusahakan terwujudnya keseimbangan ekosistem dengan tetap mempertahankan kelestarian sumberdaya alam nabati dan hewani yang terdapat di dalamnya.

Upaya kebijaksanaan konservasi ragam hayati yang diambil dalam hutan alam produksi diantaranya :

  • Pendekatan extended benefit cost yang dipandang memadai untuk menyelesaikan perimbangan ekonomi ragam hayati dan sekaligus perimbanagn ekonomi ekologi pada pengelolaan hutan produksi. Selain itu pendekatan ini menjanjikan perimbangan dampak ekonomi, baik distribusi spasial maupun temporal.
  • Kebijaksanaan incentive – disinincentive dalam kaitannya dengan pengelolaan pembangunan yang berwawasan lingkungan harus dirancang atau ditata kembali. Hal ini menyangkut sistem forestry charges yang sensitive sehingga harus dilakukan secara hati-hati. Penetapan beban biaya untuk kepentingan konservasi ragam hayati harus dilaksankan berdasarkan struktur biaya.
  • Perlu dilakukan perumusan pengintegrasian upaya konservasi  ke dalam pengelolaam hutan produksi yang ada sekarang, yang bertujuan untuk memelihara potensi-potensi ekonomi selain kayu yang ada di hutan produksi tersebut dan secara bertahap memanfatakannya. Pemanfaatan  potensi ekonomi selain kayu harus terintegrasi dan memberikan peningkatan pendapatan terhadap pemanfaatan kayu yang ada sekarang. (Manan,1991)
  • Pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan ragam hayati perlu secara eksplisit dikaitkan dengan kelembagaan AMDAL terutama menyangkut penerapan sistem pengelolaan dan pemantauan lingkungan
  • Pengelolaan hutan yang berkelanjutan  dan mampu menjawab keperluan ekonomi nasional, keperluan untuk melestarikan ragam hayati. Berbagai  upaya konservasi ragam hayati di hutan produksi harus berjalan dengan kaidah-kaidah keanekaragaman hasil yang berkelanjutan.

Kebijaksanaan  konservasi sumberdaya alam hayati dan ekositemnya di Indonesia menganut asas pelestarian dan pemnafaatan secara serasi dan seimbang serta diarahkan untuk terwujudnya kelestarian sumberdaya alam hayati serta keseimbangan ekosistem yang dapat lebih mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Kebijaksanaan konservasi yang dapat diambil antara lain  kebijaksanaan yang ditempuh melalui jalur-jalur perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekargaamn jenis tumbuhan dan satwa berikut ekosistemnya serta pemanfaataan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *